Senin, 09 Juli 2012

Tradisi adat Yogyakarta


Keagunan tradisi leluhur

Kekayaan budaya di tanah Jawa dapat disimak lewat upacara pernikahan adatnya yang unik dan penuh makna. Aneka ragam tradisi dan bentuk-bentuk perkawinan yang menjadi bagian dari adat masing-masing wilayah, termasuk wilayah Yogyakarta. Bagian dari Yogyakarta yaitu Kotagede pernah menjadi pusat kesultanan Mataram antara tahun 1575-1640. Tak heran jika gaya busana dan prosesi pernikahan Yogyakarta merupakan warisan leluhur yaitu kerajaan Mataram.

Warisan budaya yang unik dan sarat makna ini juga melibatkan seluruh keluarga besar calon mempelai dalam setiap ritual prosesi pernikahan. Hal ini mengingat pernikahan tidak sekadar menyatukan dua insan manusia, tapi juga menyatukan dua keluarga besar. Berikut kami tampilkan tata urutan beserta komponen-komponen adat pernikahan gaya Jawa Yogyakarta yang lazim dilaksanakan oleh masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya.

NONTONI
Tata cara ini dilakukan untuk mengetahui bibit, bebet dan bobot atau untuk mengetahui asal-usul dan latar belakang calon mempelai. Namun di masa sekarang, kebanyakan calon pengantin sudah saling mengenal pasangannya sendiri tanpa dijodohkan oleh orang tua.

LAMARAN
Utusan dari orangtua calon mempelai pria datang melamar pada hari yang telah ditetapkan. Mereka membawa oleh-oleh yang telah diletakan dan dibawa oleh dua orang pria. Makanan yang dibawa biasanya terbuat dari beras ketan seperti jadah, wajik, rengginang, pisang raja, gula, teh, lauk-pauk dan masih banyak lagi. Makanan dari ketan mengandung makna agar kelak kedua mempelai tetap rukun, kekal dan pliket (lengket) satu sama lain, serta hubungan kedua besan juga tetap akrab.

JAWABAN
Jika lamaran diterima, maka pihak orangtua calon mempelai wanita mengirimkan utusan untuk memberikan jawaban atas lamaran dari pihak calon mempelai pria. Setelah ada kesepakatan waktu dari kedua belah pihak, utusan tersebut datang dan memberikan jawaban bahwa lamaran si pria diterima. Utusan tersebut membawa oleh-oleh sebagai balasan untuk mempererat persaudaraan. Setelah lamaran diterima, kedua belah pihak sama-sama merundingkan hari, tanggal dan waktu dilaksanakan peningsetan.

PENINGSETAN
Peningsetan mengandung arti bahwa kedua belah pihak bersepakat untuk menjadi besan atau bersedia untuk menjadi calon menantu. Kata peningsetan berasal dari kata peningset yang artinya pengikat.

UPACARA TARUB
Tarub berarti hiasan dari janur kuning atau daun kelapa muda yang disuwir-suwir (disobek-sobek) dan dipasang di sisi tratag serta ditempelkan pada pintu gerbang tempat resepsi. Perlengkapan utama yang dibutuhkan dalam tarub adalah tuwuhan (hiasan dari dua pohon pisang yang sedang berbuah, kelapa gading, untaian padi, tebu wulung, daun beringin, dan daun dadap srep. Setelah selesai, dilanjutkan dengan pemasangan bleketepe yang terbuat dari anyaman daun kelapa untuk menutupi rumah yang ada tutup keyongnya (rumah berbentuk limasan/runcing dengan lubang berbentuk segitiga di bawahnya). Penasangan bleketepe bertujuan untuk menolak bala. Tak lupa sajen tarub yang dimakan bersama setelah pemasangan tarub, tuwuhan dan bleketepe selesai. Menurut tradisi jawa, pemasangan tarub beserta tuwuhan dan bleketepe dilaksanakan berdasarkan perhitungan waktu, hari dan tanggal yang cermat. Pelaksanaannya biasanya bersamaan dengan berlangsungnya upacara siraman, hanya waktunya saja yang berbeda. Misalnya, jika pasang tarub dilakukan pukul 09.00, upacara siraman dilakukan pukul 16.00.

UPACARA NYANTRI
Dahulu, diadakan pula upacara nyantri yang dilakukan 1-3 hari sebelum acara ijab. Calon mempelai pria diserahkan kepada orangtua calon mempelai wanita. Kemudian calon mempelai pria dititipkan di rumah salah satu saudara atau tetangga keluarga calon mempelai wanita. Nyantri dilakukan untuk menghindari terjadinya pindah wutah atau calon mempelai pria tidak datang pada hari pernikahan.

UPACARA SIRAMAN
Upacara siraman dilaksanakan satu hari sebelum upacara ijab. Kata siraman mengandung arti memandikan calon pengantin yang disertai dengan niat membersihkan diri agar menjadi bersih dan suci lahir dan batin. Jika dahulu upacara siraman dilakukan pagi hari sekitar pukul 10.00, sekarang ini upacara tersebut dilakukan sore sekitar pukul 16.00. Tujuannya supaya bisa langsung dilanjutkan dengan upacara midodareni.

UPACARA NGERIK
Upacara ngerik yaitu menghilangkan wulu kalong (bulu-bulu halus) yang tumbuh di sekitar dahi agar tampak bersih dan wajahnya bercahaya. Upacara ini bertujuan agar calon pengantin sungguh-sungguh bersih lahir dan batin, serta sebagai simbol membuang sebel (sial).

UPACARA MIDODARENI
Upacara midodareni dilaksanakan pada sore hari menjelang akad sekitar pukul 18.00 sampai pukul 24.00 usai siraman dan ngerik. Calon pengantin putri tidak diperkenankan tidur dan keluar dari kamar pengantin. Calon pengantin mengadakan tirakatan, didampingi orangtua dan para sesepuh. Tirakatan bertujuan agar calon pengantin berlaku prihatin dan berlatih mengendalikan diri, diiringi permohonan kepada Tuhan agar melimpahkan anuerah-Nya, sambil menunggu turunnya Sang Bidadari yang cantik dan tinggal di kahyangan, tepat pukul 24.00.

UPACARA IJAB
Keesokan harinya baru dilakukan upacara ijab atau akad nikah. Dengan dilaksanakannya ijab, maka kedua mempelai resmi menjadi suami istri.

UPACARA PANGGIH
Upacara panggih merupakan puncak dari rangkaian upacara adat perkawinan. Rangkaian acara yang ada dalam upacara panggih meliputi penyerahan sanggan yang lazim disebut tebusan, keluarnya mempelai wanita dari kamar pengantin yang didahului kembar mayang, lempar sirih atau balang-balangan suruh, wijikan dan memecah telur. Kemudian kedua pengantin berjalan bergandengan kelingking menuju pelaminan, Kacar-kucur atau tampa kaya, Dhahar klimah, penjemputan orangtua mempelai pria atau besan, dan terakhir dilakukan sungkeman.
Pakaian

PENGANTIN WANITA 
Busana pengantin Yogyakarta Kebesaran atau juga dikenal dengan nama Paes Ageng merupakan simbol keagungan budaya kraton Yogyakarta. Busana ini biasanya digunakan saat upacara Panggih atau resepsi. Busana pengantin Yogya memiliki kekhasan pada lembaran dodot kampuhcinde, dan batik yang melekat erat yang memancarkan keagungan gaya bangsawan. Pengantin wanita mengenakan dodot atau kampuh dengan ragam perhiasan gemerlap seperti Klat Bahu Naga, kalung susun tiga, gelang bumbungan/kono, sepasang cincin, pending, bros pada uket cinde, serta selop tutup beludru bersulam benang emas. 

PENGANTIN PRIA 
Sama halnya dengan pengantin wanita, pengantin pria juga memakai dodot kampuh, kain cinde, dan kain batik. Selain itu, pengantin pria juga mengenakan kalung susun tiga, klat bahu naga, dan gelang. Tak lupa rangkaian bunga yang dibuat seperti kalung.

Tata Rias

PENGANTIN WANITA 
Tatar rias wajah dan rambut pengantin Yogyakarta memang unik. Meski mengenakan paes hitam seperti halnya pengantin Solo, namun pengantin Yogyakarta Paes Ageng memasukan warna emas (prada) sebagai penegas paes. Paes memiliki makna yaitu upaya mempercantik diri dan diharapkan dapat membuang jauh-jauh perbuatan buruk dan diharapkan pula pengantin wanita menjadi orang yang shaleh dan dewasa.
Selain paes, pengantin wanita memakai sanggul bokor mengkurep, dengan ronce  bunga gajah ngolig, teplok, dan bunga sritaman. Perhiasan yang digunakan adalah ceplok jebehen sritaman dan bros dua buah,pethat gunungan atau menthul sebanyak 5 buah, centung gelombang serta subang ronyok. Pethat gunungan dan menthul dipasang menghadap ke belakang menjadi simbol peringatan kepada manusia agar memiliki sifat konsekuen. Riasan pengantin wanita dipandang dari depan akan tampak bersinar dan bercahaya. Hal ini menjadi simbol dan harapan agar manusia jangan hanya baik dipandang   depan saja, tapi juga harus dari belakang.

PENGANTIN PRIA 
Sementara itu, pengantin pria  mengenakan kulukukel ngore (buntut rambut menjuntai) yang dilengkapi sisir dan cundhuk mentul kecil. Sebuah keklasikan yang menjadi simbol keindahan dan keagungan dari kraton Yogyakarta.

Kuliner
Sajen dalam upacara pernikahan adat Jawa dahulu merupakan sajian yang dipersembahan untuk arwah nenek moyang dan dewa. Tujuannya agar calon pengantin mendapatkan berkah dari roh para leluhur dan dewa supaya acara berjalan lancar dan diberi keselamatan hingga seluruh upacara selesai. Namun seiring dengan perkembangan zaman, sajen kini hanya sekadar hiasan dan perlambang untuk menyemarakan suasana dan ruangan pesta pernikahan serta sebagai suguhan bagi para keluarga, kerabat dan undangan yang datang.
Pada pernikahan pengantin Yogyakarta, hampir sama dengan prosesi pernikahan adat Jawa lainnya yaitu menggunakan beberapa macam sajen yang berisi ragam makanan khusus yang disiapkan calon pengantin. Misalnya seperti Sajen Tarub, Sajen Siraman, Sajen Ngerik, dan Sajen Midodareni. Dari seluruh sajen yang tersedia, hampir sebagian besar menggunakan jajanan pasar khas Jawa. Yang tak boleh dilupakan adalah tumpeng robyong, tumpeng gundhul, tumpeng megono, dan ragam buah-buahan.
Yang menarik, biasanya saat upacara siraman, selalu disediakan es dhawet. Namun, jika pada tata cara pernikahan adat Solo, es dhawet ditempatkan di dalam wadah kendil dan dijjual kepada para tamu yang datang saat upacara siraman dengan menggunakan tanah liat atau pecahan genting, maka pada tata cara pernikahan Yogyakarta, es dhawet sudah ditempatkan di gelas-gelas. Es dhawet menjadi perlambang sebuah harapan agar rumah tangga calon pengantin selalu harmonis dan langgeng.
Khusus untuk Sajen Ngerik, sajen yang dipergunakan tidak jauh berbeda dengan sajen siraman. Karena itu, setelah upacara siraman selesai, sajen dapat segera diambil dan dipindahkan ke kamar pengantin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar